Selasa, 24 Juli 2018, Pusat Studi Hak Asasi Manusia  (Pusham) Surabaya menggelar Focus Grup Discussion yang melibatkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibnas), RT/RW, Satuan Polisi Pramong Praja dan masyarakat di sekitar kampus kota Surabaya. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Pusham Surabaya dengan PPIM UIN Jakarta, dan UNDP yang bertujuan untuk pencegahan dini dalam menanggulangi potensi radikalisme maupun terorisme.

FGD dimulai dengan pemberian materi oleh Bambang Budiono, selaku Dewan Pembina Pusham Surabaya. Ia menyampaikan materi tentang penguatan nilai-nilai kebangsaan untuk mencegah radikalisme dan terorisme. Menurutnya, aksi terorisme itu seperti gunung es. Terorisme mengendap dalam lapisan masyarakat, sehingga sulit sekali mengidentifikasinya. Selain itu, ia juga memaparkan bagaimana seseorang atau satu keluarga terjangkit virus radikalisme maupun terorisme. Bambang Budiono lalu menunjukkan hasil riset PPIM yang memberi gambaran bahwa doktrin agama turut berkontribusi atas menyebar-luasnya virus tersebut.

Virus radikalisme maupun terorisme hanya mampu diperangi melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini yang disampaikan oleh Bambang Budiono di akhir materi. Ia menambahkan bahwa, penguatan nilai-nilai kebangsaan harus dilakukan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tidak hanya di institusi pendidikan, nilai-nilai tersebut seyogyanya bisa didistribusikan di lingkungan RT-RW. Dengan begitu, virus radikalisme dan terorisme akan sulit berkembang.

Sedangkan materi kedua, yang diisi oleh AKBP Broto Waluyo menekankan peran Kamtibnas dalam membangun sistem pencegahan dini. Broto menekankan peran pelbagai elemen masyarakat untuk saling mendukung upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di sekitar kampus. Upaya tersebut secara konkrit dilakukan dengan pendataan secara reguler ke penghuni kos dan pendatang baru. Menurutnya, upaya pendataan penting dilakukan agar pihak keamanan bisa mempersempit ruang gerak paham-paham tersebut. Ia juga menghimbau kepada semua pihak untuk segera melaporkan bila ada kegiatan yang berbau radikalisme maupun terorisme.

Setelah materi selesai, peserta memulai FGD yang difasilitatori oleh Lutfi. Pertama-tama, lutfi mengajak peserta untuk memahami ulang makna radikalisme. Peserta diminta untuk merefleksi materi yang sudah didapatkan. Setelah itu, fasilitator langsung mengajak peserta untuk mengidentifikasi potensi radikalisme dan terorisme di lingkungannya. Dalam sesi tersebut, peserta mulai mengidentifikasi potensi radikalisme dan terorisme. Selanjutnya, peserta diminta untuk mempresentasikan hasil identifikasinya.

Acara FGD ditutup dengan pemaparan Johan Avie selaku kordinator program. Ia memaparkan FGD tersebut penting dilakukan untuk membangun sistem pencegahan dini di sekitar kampus. Tentunya, kegiatan tersebut tidak berhenti disitu. Menurut Johan, kegiatan tersebut akan mendapat follow up agar mematangkan sistem pencegahan dini di sekitar kampus.

(Fata)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here