Namanya Misradin. Laki-laki berusia 50 tahun ini merupakan seorang Linmas di RT 01/RW 29, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Dulu khalayak sering menyebut Hansip, tetapi kini lebih tepat jika menyebutnya Linmas. Misradin bekerja sebagai Linmas sejak tahun 1992, dan sampai sekarang pun profesinya tetap sama. Seragam hijau-hijau adalah satu-satunya kebanggaan bagi dirinya.

Selama ini, Misradin menyandang status sebagai Pegawai Honorer Kategori II (K2). Ia menceritakan kepada Pusham Surabaya, gaji bulanan yang diterima hanya sebesar Rp. 750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Pengangkatan PNS yang ia impikan tak kunjung datang. Sedangkan di rumah, Misradin harus membiayai 2 orang anak, bahkan 1 orang anaknya sekarang sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas di Jember.

Demi menanggung seluruh biaya hidup, Ia rela bekerja serabutan. Menjadi tukang pijat, tukang bangunan, tukang kebun, sampai berjualan nasi bungkus pun ia jalani. Demi kelangsungan hidup keluarga yang dicintainya.

Pagi itu Misradin datang ke Meotel Hotel sendirian. Ia adalah perwakilan Linmas yang ikut berpartisipasi sebagai Peserta Pelatihan Pencegahan Radikalisme dan Terorisme. Pelatihan ini diadakan oleh Pusham Surabaya, bekerjasama dengan PPIM UIN Jakarta, dan UNDP Indonesia. Dengan menggunakan sepeda motor tua miliknya, ia datang dengan senyuman. Menyapa seluruh panitia, sambil setengah menghormat. Pelatihan ini diadakan selama 2 hari penuh, pada tanggal 1-2 November 2018.

Selama sesi pelatihan berlangsung, Misradin selalu aktif bertanya. Bahkan ia menyampaikan keluh-kesahnya sebagai Linmas, yang hanya digaji Rp. 750.000,- per bulan. Saat Fasilitator bertanya bagaimana pendapatnya mengenai teroris, Misradin menjawab dengan lantang, “ Saya menolak Teroris. Teroris itu mendzalimi masyarakat, mendzalimi orang-orang kampung. Tindakannya meresahkan masyarakat, juga mengganggu ketenteraman masyarakat.”

Sewaktu Pusham Surabaya bertanya tentang bagaimana kalau agama anda digunakan sebagai landasan oleh pelaku teror melakukan aksi-aksi teroris. Misradin dengan sigap menjawabnya, “Saya tidak rela kalau agama saya digunakan sebagai landasan dalam melakukan aksi terorisme. Karena sebenarnya agama itu sudah jelas tidak pernah mengajarkan orang untuk membunuh, apalagi melakukan aksi teror. Apalagi seperti agama saya misalkan, Islam itu justru lebih banyak mengajarkan akhlakul karimah, untuk patuh pada orang tua, patuh kepada hukum negara, dan patuh kepada pemerintah.”

Baginya, pelatihan-pelatihan seperti ini dapat menambah pengetahuannya mengenai terorisme. Meskipun pada dasarnya ia sudah pernah mendapatkan ilmu kelinmasan dari Polisi. Hanya saja ilmu yang ia kuasai selama ini adalah tentang bagaimana cara menangkap pencuri, atau tentang bagaimana mencegah kejahatan. Belum pernah sekalipun ia menerima ilmu tentang penanganan radikalisme dan terorisme. Ia merasa senang mengikuti pelatihan ini. Pelatihan yang dianggap menghibur, dan membuatnya merasa muda kembali.

Terakhir, Misradin menyampaikan keresahan hatinya sewaktu kami membincangkan tentang bagaimana agama itu seringkali digunakan landasan untuk melakukan teror. Ia berependapat, “Setahu saya, Islam itu juga mengajarkan sopan santun. Kepada masyarakat kita harus sopan santun, tidak menghujat, tidak mengafirkan orang lain. Kalau aksi terorisme itu jelas melanggar Akhlakul Karimah. Dimana-mana, membunuh orang lain itu dosa, tidak mendapatkan pahala.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here