Rabu, 24 Oktober 2018, Bakesbangpol Kota Malang menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran Masyarakat Dalam Deteksi Dini di Wilayah Sekitar Kampus”. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Trio Indah 2, dengan menghadirkan Ir. Sofyan Edi Jarwoko (Wakil Walikota Malang), dan Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H. (Ketua FKDM Kota Malang), sebagai pembicara. Pusham Surabaya sendiri diundang secara langsung oleh Bakesbangpol Kota Malang untuk menjadi moderator dalam kegiatan ini. Hadir juga sebagai undangan di antaranya adalah Wakapolres Kota Malang, Komandan Kodim Kota Malang, Satpol PP, Akademisi, dan Mahasiswa dari Kampus di sekitar Kota Malang. Setidaknya, 100 orang undangan dari berbagai unsur hadir dan turut aktif dalam kegiatan ini.

Dalam pembukaannya, Kepala Bakesbangpol Malang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari Pelatihan Pusham Surabaya yang diselenggarakan pada 16-18 Oktober 2018 lalu. Dalam pelatihan tersebut, Pusham Surabaya memang bekerjasama dengan Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur dan Bakesbangpol Kota Malang. Hasil dari pelatihan itulah yang menjadi dasar inisiatif Bakesbangpol Kota Malang untuk menyelenggarakan FGD dengan tema serupa.

Sesi pertama, Ketua Bakesbangpol Kota Malang menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan memberikan sambutan kepada Peserta. Dilanjutkan dengan sambutan disertai pembukaan oleh Wakil Walikota Malang. Dalam sambutannya, Wakil Walikota Malang menyampaikan apresiasi kepada Baksebangpol dan FKDM Kota Malang atas inisiatifnya menyelenggarakan kegiatan ini.

Menurutnya, radikalisme dan terorisme adalah permasalahan global, yang juga dialami oleh semua negara di pelbagai belahan dunia. Artinya, kontribusi warga Malang dalam pencegahan dini Radikalisme dan Terorisme adalah kontribusinya terhadap dunia. Saat ini,  Pemerintah Kota Malang sedang berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat Malang. Ini adalah salah satu cara agar potensi radikalisme dan terorisme dapat diminimalisir. Oleh karena, jaringan teroris lebih mudah merekrut “calon pengantinnya” dari kelompok masyarakat yang tingkat kesejahteraannya rendah.

Sesi kedua adalah pemaparan materi dari Nuruddin Hady, selaku Ketua FKDM Kota Malang. Dalam paparannya, Nuruddin Hady menyampaikan bahwa aksi terorisme tidak dapat dipisahkan dari ideology yang melatarbelakangi aksi-aksinya tersebut. Ideologi itu bisa berkedok agama, atau politik. Dalam konteks ini, pemerintah harus segera mengambil langkah berupa de-ideologisasi terhadap kelompok atau jaringan teroris yang sudah tertangkap.

Sesi ketiga adalah sesi penyusunan rekomendasi. Dimana dalam sesi ini telah berhasil disusun rekomendasi-rekomendasi berupa:

  1. Perda Kota Malang mengenai kos-kosan dan rumah kontrakan perlu diperbaharui dan dicanggihkan. Perlu diatur mengenai kewajiban adanya pengawas/penjaga kos yang tinggal di rumah kosnya tersebut. Oleh karena dalam banyak kasus, di kos-kosan tidak jarang hanya berisi anak-anak kos/penghuni kos saja, dan tidak ada pengawas/penjaga kosnya.
  2. Bakesbangpol Kota Malang perlu mengadakan kegiatan lanjutan untuk mengakomodir pendapat-pendapat dan masukan-masukan dari warga Kota Malang. Sebab, dalam pertemuan hari ini, ada begitu banyak peserta yang ingin menyampaikan pendapatnya tetapi tidak bisa diakomodir karena keterbatasan waktu.
  3. Aktor-Aktor di Perguruan Tinggi, seperti organisasi mahasiswa, dan pejabat-pejabat kampus, perlu dilibatkan dalam sistem deteksi dini di lingkungan sekitar kampus. Saat ini, mahasiswa lebih sering melaksanakan kegiatan di luar kampus. Dimana Ketua RT/RW tidak dapat melakukan kontrol yang terlalu ketat terhadapnya. Ketua RT/RW di sekitar kampus merasa bahwa mahasiswa itu menjadi tanggungjawab dari Perguruan Tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here